Rasa-rasanya sulit sekali menggambarkan sosokmu lewat tulisan.
Terlalu menumpuk apa yang aku ingin ungkapkan dari sosok mulia dan
istimewa yang terdiri dari 3 huruf. Umi. Ibu. Yang ku ingat darimu
adalah omelan. Omelan yang menuntunku kepada kebaikkan. Jadi anak
perempuan harus rajin, pandai memasak, pandai menjaga diri, jangan mudah
termakan rayuan lelaki. Nanti cari suami jangan lihat dari tampannya,
jangan lihat dari hartanya. Lihat dari ketaatannya kepada Allah,
insyaallah itu yang bisa menuntunmu ke syurga.
Saat ini Umi sering berkata, yang umi takutkan ketika nanti Allah
memanggil umi bukanlah bagaimana diri Umi nanti ketika di hadapan Allah.
Yang Umi khawatirkan bagaimana kalian kalau tak ada Umi. Siapa yang
akan mengingatkan kalian. Sholat jangan lalai, tepat waktu sebaiknya di
jaga. Ada Umi saja masih suka telat sholatnya, gimana kalo umi ga
ada. Mangkannya umi mau kalian khususnya yg perempuan bersanding dengan pria sholeh. Biar
umi sama ayah tak khawatir lagi. Sudah ada yang bertanggung jawab atas
kalian.
Ayah juga sering berpesan, baca Al-quran. Jangan lupakan membaca Al-
quran minimal satu 'ain setiap hbs sholat. Nanti bagaimana kalau Ayah di dalam kubur. Malaikat melaporkan
anak-anak Ayah tak ada yang membaca Al-quran. Ayah dan Umi pasti sedih.
Tak ada yang mendoakan kami.
Air mataku meleleh setiap mengingatnya. Aku sedih membayangkan jika
tiba waktunya kalian benar-benar pergi. Sedang aku belum sepenuhnya
memberi kebahagian.
Umi juga selalu bilang. Umi tak terlalu butuh kalian bahagiakan di
dunia, cukup bahagiakan umi dan Ayah di akhirat, dengan cara
sesering mendoakan kami, itu adalah kebahagian yang benar bahagia untuk
kami. Ingat, hanya doa anak sholehah yang di dengar Allah, yang bisa
membantu kami.
Aku ingat waktu kecil di rumah selalu ada sapu lidi,
untuk memukul kami kalau nakal dan tak bisa di ingatkan hingga tiga
kali. Dahulu tanganku akan kena "EMPOS" kalau Umi tahu aku memetik buah di
pohon tetangga tanpa minta izin yang punya. Meskipun itu tetangga dekat
yang mungkin dia akan mengizinkan buah di petik. Tapi tetap itu namanya
mencuri, menurut Umi. Betis kena sabet SAPULIDI bhkn gesper kalau kami lalai dalam sholat.
Pedas cabe rawit akan hinggap di lidah jika kami mengeluarkan kata-kata
yang tak sopan dan kotor, apalagi membawa nama-nama binatang, apalagi jk ada kata kata yg membantah jika mndapat nasihat darinya. Bahkan pernah juga aku dan kedua adikku sekongkol untuk menyembunyikan sapulidinya
kalau umi lg bobo.
Tetapi kini tak perlu rotan atau cabai untuk menghukum kami
anak-anaknya. Alhamdulillah
tanpa sadar kami terbiasa, dan mulai mengerti kewajiban
kepada sang Kholik. Kami mengerti umi. Semua yang kau lakukan demi
kebaikan putra putrimu.
yah memiliki SEMBILAN orang anak,tanpa bantuan baby sitter, tukang masak atau yg lainnya, Umi bisa mlewati masa masa yg menurutku itu masa yg sangat berat buat dilewati bagi keduaorang tua kami, tp tak pernah sdikitpun ada keluhan yg diutarakan dihadapan kami putra putri Umi,, oh iya aku pun ingat, ketika mencuci pakaian, Umi masih mmiliki anak yg digendong dan ada pula yg masih balita, aku ditaruhnya didalam bak mandi brsama saudaraku yg lain sementara umi pun mencuci, kami diberikan busa busa sabun sambil meniup niupkan kami pun merasakan kebahagiaan yg sungguh tak ada tandingannya, buatku itu adalah hal yg sangat luarbiasa,,,,
kini putra putri Ayah dan Umi hampir sudah menikah semua, hanya tinggal aku dan kedua adikku yg belum mmberikan kelengkapan kebahagiaan utk Ayah dan Umi, Insha Allah kami percaya ada do'a yg setiap hari dipanjatkan diatas sajadah yg terpapar lebar, krn do'a Ayah dan Umi lah yg mampu mnjadikan semua putra dan putrinya hingga mndapatkan kbahagiaan di dunya dan di akhirat , aamiin
Terimakasih umi.
Untuk setiap retakan-retakan di bawah telapak kakimu yang disana terdapat syurga, aku menyayangimu.
pada setiap harum segala wewangian di telapak tanganmu setelah memasak untuk kami, aku mencintaimu.
Untuk setiap peluh yang mengalir dan menetes di kulitmu setelah melayani kami dan Ayah tercinta kami, aku mengasihimu.
Terimakasih Umiku, terimakasih Ayahku, mataanallah bithuuli hayatihima (':