mereka sering bilang, everything shall pass. bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan. bahwa akhir lebih baik daripada awal. bahwa kebaikan pasti terbalas dengan kebaikan pula. bahwa semua akan baik-baik saja pada akhirnya. bahwa tiap-tiap yang berjiwa akan mati. bahwa tidak ada ujian yang melampaui batas kemampuan yang diuji.
everything shall pass memang seringkali melegakan. namun sejujurnya, everything shall pass tidak pernah menjadi bagaimana saya melihat hidup apalagi menjalani hidup. setiap kali saya mendengar diri saya sendiri mengatakannya, saya merasa payah. seperti, menyuruh diri untuk pasrah saja menerima yang tidak sesuai harapan apalagi rencana.
entah berakhir atau tidak, bukankah kita perlu untuk menjalani segala nikmat dan ujian sebaik-baiknya? dengan penuh keimanan? keikhlasan kesabaran dan syukur? karena kita butuh bahagia. tidak hanya nanti, tetapi sekarang juga.
tidak pernah sampai sekarang, saat saya menyadari bahwa percaya bahwa segalanya akan berakhir adalah bagian dari keimanan.
kenyataannya, segalanya akan berakhir. kita akan bahagia saat itu berakhir. kenyataan lainnya, kita juga bisa bahagia sebelum itu berakhir. yang ini, kita yang harus mengusahakan.
semoga–sampai itu berakhir–kita bahagia bukan karena ingin menjadi hebat, ingin menjadi yang paling kuat. semoga kita bahagia karena kita bersyukur. bahwa sebanyak apapun ujian sedang datang, teriring nikmat-nikmat yang selalu berkali lipat jumlahnya. bahwa meskipun kita tidak tau kapan itu akan berakhir, kita tau bagaimana itu akan berakhir.
itu akan berakhir dengan baik !