Jumat, 05 Februari 2021

RAPOR ONLINE MA ATTAQWA PUSAT PUTRI

Selasa, 19 April 2016

3 april 2016



Sebelum besok, tepatnya tgl 3 April 2016, aku kan menjadi seorang Istri, dan malam ini tgl 2 April 2016 aku membuat barisan huruf yg terdiri dari beberapa alinea yg merupakan Isti’dan untuk kedua orangtuaku, yah Isti’dzan adalah permohonan izin dan do’a restu seorang anak kepada kedua orgtuanya untuk melangkah menuju pernikahan,,


Dan keesokan paginya tgl 3 April 2016 pukul 09.30 aku melakukann isti’dzan dgn begitu melankolis skali krn kebetulan aku mengiringi dgn backsound yg melow, sungguh hatiku bergetar hebat diiringi isakan tangisan yg dgn segenap jiwa kutahan agar tangisan tdk membuat prosesi isti’dzanku kepada Ayah dan Ummi menjadi tak beraturan, berikut surat izin menikah yg aku buat dgn curahan airmata seorang gadis yg tetap menjadi putri kecilnya Ayah dan Ummi (‘:






Astaghfirulloh hal’azim3x,, ash haduallaila ha illallah wa asyhadu anna muhammadarrosululloh,,,Ayah dan Ummi yg farhana cinta dan sangat farhana banggakan, akan selalu teringat episode perjalanan hidup farhana bersama Ayah dan Ummi, telah sekian lama farhana berada dalam pelukan kasih sayang Ayah dan Ummi,,


Segala peluh dan keluh mengiringi langkah Ayah dan Ummi selama merawat farhana, bahkan mungkin begitu banyak airmata yg Ayah dan Ummi teteskan dalam membimbing farhana, sungguh tak terasa episode hidup itu begitu cepat berlalu meninggalkan segenap kerinduan didalam hati ini,,,


Farhana menghaturkan permohonan maaf yg sedalam dalamnya atas segala kesalahan yg terukir selama hidup bersama Ayah dan Ummi, kini farhana sudah dewasa namun masih belum bisa memberikan binar kebahagiaan dimata Ayah dan Ummi atau berbakti atas segala jasa jasa Ayah dan Ummi,,


Hari ini tepat tanggal 3 April 2016 dimana tanggal dan bulannya sama dengan hari pernikahan Ayah dan Ummi, farhana kan memulai Sunnah Rasul Mulia dlm sebuah mahligai rumah tangga, Ayah Ummi tolong ajarkan farhana tuk meninta dgn cinta yg bermuara pd Alloh semata, bimbing farhana dan Kak Kholis tuk bersabar dgn kesabaran yg tak lekang diterpa cobaan, dukung farhana dan Kakk Kholis saat melangkah dalam kebenaran, ingatkan kami jikamelangkah menuju jurang kesalahan, kami memohon do’a dan restu Ayah dan Ummi krn hari ini kami akan mengikrarkan perjalanan utk mengarungi samudera rumah tangga, menapak jejak Rasul yg Mulia, do’akan kami dalam sujud2 panjang tahajjud Ayah dan Ummi agar kami bisa menggapai sakinah mawaddah warahmah


Ayah dan Ummi tolong ajari kami tentang kasih sayang yg tak lekang dimakan usia,bimbing kamituk sekali lagi bersabar dgn kesabaran seluas samudera, arahkan kami tuk menguatkan ikatan pernikahan dalam bingkai ibadah, bimbing kami tuk menumbuhkan kasih sayang diantara kami, aari kamicara terbaik utk mendidik putra putri kami kelak, dan kokohkan tekad kami dlm memikul tanggung jawab,,


Ayah dan Ummi relakan farhana terhempas bersama putaran waktu, tersenyumlah saat nanti Ayah dan Ummi melepas genggaman tangan farhana, karena senyuman Ayah dan Ummi adalah senyuman kebahagiaan farhana,

Senin, 21 Desember 2015

dzurriyyatan toyyibah !

“syarat menjadi hebat adalah kuat.
syarat menjadi kuat adalah sehat.
syarat menjadi sehat adalah tercukupi kebutuhannya.”
– keluarga yang hebat berawal dari keluarga yang tercukupi kebutuhan-kebutuhannya: fisik, lisan, pikiran, perasaan, dan hati.
“sesungguhnya ada sahabat tapi mengecewakan itu lebih baik daripada tidak ada sahabat sama sekali.”
– jangan lupa bersyukur. jangan lupa bersyukur lagi. jangan lupa bersyukur lagi.

sure (:

“what you don’t know doesn’t hurt you.”
– Fadlan Mauli.
sometimes it is better not to know.

selain bermusik,menulis jg hal yg membahagiakan !


ikuti saja alurnya ~

mereka sering bilang, everything shall pass. bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan. bahwa akhir lebih baik daripada awal. bahwa kebaikan pasti terbalas dengan kebaikan pula. bahwa semua akan baik-baik saja pada akhirnya. bahwa tiap-tiap yang berjiwa akan mati. bahwa tidak ada ujian yang melampaui batas kemampuan yang diuji.

everything shall pass memang seringkali melegakan. namun sejujurnya, everything shall pass tidak pernah menjadi bagaimana saya melihat hidup apalagi menjalani hidup. setiap kali saya mendengar diri saya sendiri mengatakannya, saya merasa payah. seperti, menyuruh diri untuk pasrah saja menerima yang tidak sesuai harapan apalagi rencana.
entah berakhir atau tidak, bukankah kita perlu untuk menjalani segala nikmat dan ujian sebaik-baiknya? dengan penuh keimanan? keikhlasan kesabaran dan syukur? karena kita butuh bahagia. tidak hanya nanti, tetapi sekarang juga.
tidak pernah sampai sekarang, saat saya menyadari bahwa percaya bahwa segalanya akan berakhir adalah bagian dari keimanan.
kenyataannya, segalanya akan berakhir. kita akan bahagia saat itu berakhir. kenyataan lainnya, kita juga bisa bahagia sebelum itu berakhir. yang ini, kita yang harus mengusahakan.
semoga–sampai itu berakhir–kita bahagia bukan karena ingin menjadi hebat, ingin menjadi yang paling kuat. semoga kita bahagia karena kita bersyukur. bahwa sebanyak apapun ujian sedang datang, teriring nikmat-nikmat yang selalu berkali lipat jumlahnya. bahwa meskipun kita tidak tau kapan itu akan berakhir, kita tau bagaimana itu akan berakhir.

itu akan berakhir dengan baik !