Setelah
sekian lama gak berbagi tentang isi hati ke orang lain termasuk temen
deket, akhirnya hari ini saya kepancing untuk kembali ‘jujur’ dan
berhenti poker face. Diawali dengan pertanyaan dari temen siang
itu,
“al, lu bakal kayak gimana kalo ternyata nanti lu jadinya bukan sama orang yang lu sekarang harapkan?”
Hening. Saya terdiam cukup lama, menghela nafas,
untuk kemudian diam lagi sejenak karena memutar otak terlebih dahulu dan
mencari jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan ini.
“Hmm gimana ya, gw sih udah melewati masa-masa
itu men. Masa di mana rasa suka, sayang, bahkan cinta ke seseorang sangat
menggebu sampai jatohnya itu malah jadi keinginan untuk memiliki”
“Iya sih al, sama aku juga. Tapi lu sekarang….”
“Gak kok men, gw sekarang tau posisi gw gimana. gw jg tau gw siapa dan gw tau musti ngapain. gw gak berani
berekspektasi. Tapi ada satu hal yang gak bisa gw hindari dan
hentikan”
“Apa?”
“Ngedoain dia”
“Doa apa?”
“Doa supaya dia dikasih kelancaran, kemudahan, dan keridhoan di setiap urusan. Dan dikasih yang terbaik”
Entah apa yang merasuki saya hingga bisa dengan
lancar menjawab pertanyaan yang sempat saya kategorikan sebagai
pertanyaan yang sensitif dan seringkali saya hindari. Bukannya saya fake
atau gimana, tapi saya berusaha menjaga reputasi saya dan orang yang
seringkali jadi objek dalam pertanyaan ini.
“gw bersyukur udah ngendaliin perasaan gw. Rasanya gak ada tuntutan apa-apa di hati. Udah jarang banget
smsan, whatsappan, ketemu juga gak sering.. Gak ketemu sehari
dua hari tiga hari seminggu dua minggu ya udah lah, kalo ketemu ya
alhamdulillah”
Mungkin semua akan lebih mudah jika kita tidak saling mengenal,
Akan lebih mudah jika aku tidak hadir,
Akan lebih mudah jika perasaan itu ku pelihara
Sayangnya, kita tidak hanya berbicara masalah kemudahan tapi juga kebaikan
ALLOH tahu ada yang lebih baik daripada hal yang ku anggap lebih mudah itu
Yakni akan baik jika kita bertemu,
Akan baik jika aku hadir,
Akan baik jika perasaan itu ada
Ikhlas itu indah, dan aku ingin merasakan sepenuhnya
Terimakasih Rabb,
Karena telah mempercepat reaksiku hingga bisa sampai pada kesetimbangan yang penuh hikmah ini
Terimakasih karena telah mengubah galauku yang berairmata kini teriring doa
Terimakasih karena telah membuatku menghiasi tiap sujudku dengan menyebut sebuah nama
Terimakasih karena telah membuatku merasakan syahdunya hidayah
Dan maaf,
Karena harus aku hadir dalam salah satu bagian perjalananmu
Maaf karena aku harus melewati jalan yang sedang kau tempuh
Sungguh tak pernah ada niat untuk singgah dalam pencarianmu
*Monolog*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar