munculnya tetesan letih sprti embun menghiasi dahiku,, aaarrggh aku brpikir sulit skali buat mnentukan kputusan saat ini. begitupula dgn tangan kananku, jangan ditanya,
betapa basahnya hingga mampu menjadikan bahan yang sebelumnya kering hingga mnjadi seperti terendam air krn kebasahan tanganku.
Ayolah, aku berusaha keras sekali untuk membuat sbuah gerakan. Sungguh, padahal terlihatnya sangat mudah. Tapi entah mengapa, seperti ada jala
yang menjaring kepalaku sehingga tertahan untuk memberi perintah motorik
pada alat gerak yang seyogyanya mampu meraih benda depan mata. Padahal,
arrrrggh, benda itu kecil men !!! Hanya dipisahkan beberapa jengkal dari
pandangan dengan tatapanku membidik persis di sekujur panjangnya. Tetapi
tetap, sulit melawan kecamuk rasa yang mewarnai pikiranku sekarang.
Ambil gak ya,,,
Kurasa
tidak. Ada bisikan kuat buatku mmbiarkan saja benda itu tergeletak
di lantai. Karena kalau ku ambil, mungkin akan sulit memberi pertanggungjawaban diri seketikanya benda
itu kembali menyelip di antara jemariku ini.
Tapi, apa iya aku harus menendangnya jauh dgn mnggunakan tendangan tsubasa?
Ingin sekali sbenarnya.
Namun, hatiku juga ikut memberontak. Tidak rela aku membiarkan sia-sia
ia terlempar jauh begitu saja. Aku yakin, meski sedikit dan tidak berharga dimata manusia setidaknya aku masih bisa
mendayagunakannya.
Tapi, bagaimana kalau tetap gak bisaaaaa????
memang, sebelum benda itu jatuh kelantai, aku sudah bermain-main
dengannya tanpa jelas akan dibawa ke mana mengikuti alur cerita apa saja yg terlintas dalam benakku.
Ampun dah !!! Sungguh, aku bisa mati berdiri saking tak kuasa menerima jeritan kegagalan yang mulai menggaung
di sanubariku yang beragam. Pikirku, jika brdekatan dengan benda itu membawa gairah
dan keputusasaan sekaligus dalam satu paket. Ketika mlihatnya menggelinding
jatuh ke lantai, sedikit banyak mengundang legaku.
Ah, bentuknya
sangat menggelitik asaku. Sungguh begitu ringkih. Sangat ringan bila
kutimang dalam genggaman tanganku. Tapi aku juga kadang merasa berat bersamaan dengan
ketidakmampuanku tuk memberi klanjutannya. Jujur saja,tadi itu sudah
kucoba patahkan jadi dua tapi Gagal. Karena terlalu keras, dan aku tidak
cukup kuat tenaga, terkuras oleh pikiran yang melayang tak jelas.
Yah seharusnya aku bersyukur, dengan berjarak seperti sekarang, setidaknya aku diberi
waktu untuk memikirkan motif. Memikirkan niat. Apa yang sedang
kurancang untuk kulakukan? Aku punya keinginan. Aku sudah
memulainya. Tapi langkah itu tidak lancar. Terseret-seret hingga
akhirnya berhenti di sepertiga perjalanan, menjadi linglung, kosong tanpa ada sedikitpun yang terlintas. Kalau saja
pikiranku ibarat pipa, maka mungkin, selama ini sudah terlalu banyak air
limbah kubiarkan mengalir di dalamnya. Yah, itu karena air yang tak tersalurkan tepat,
sehingga mengendapkan banyak kotoran yang dalam proses waktu menyebabkan
sumbatan.
BUNTU MANDEG MAMPET !!! Hilang akal. Begitu lah aku. Mungkin bagiku ini lebih
parah dari kematian. Ketika kita sadar kita masih
bernyawa, namun isi kepala kita dalam tingkat kekentalan tinggi karena perlahan gerakan
melambat, bahkan hampir-hampir berhenti mnjadikan sprti sebuah nihilistik, hampa
materi.
Farhana Magnouna !!! Lebih baik menjadi orang gila sekalian yang
tidak punya ukuran untuk kesadaran. Yang tidak perlu menjadi peduli
dengan percikan-percikan ide otak, yang malas merasa untuk hal-hal yang
kompleks, yang bahagia dengan berkutatnya pada dunia sederhana saja.
Ah tidak !!!!
rambutku bisa rontok dengan begini. Mana yang katanya proses kreatif?
Bagaimana aku harus memulainya? Memungut benda kecil itu, kmudian menegakkannya di
atas meja? Bersanding kembali dengan ibu jari dan telunjuk, begitu kah???
lalu apa yang mau aku tulis?
************
Iya benar, Tunggu dulu !!!
Apa yang mau aku tulis?
Ya,
semua ini! Semua ini akan aku tulis. Inilah ide kreatifku. Inilah yang
penting harus aku gambarkan dan aku ceritakan. Ini saja. Tak ada yang
lain. Tak perlu yang lain. Ini saja.
************
Maka
otakku pun bergeliat kembali bagai bangun segar di pagi hari yang tidak
terik tidak juga penuh awan abu-abu. Sigap sarafku memberi perintah
menggerakkan tanganku.
Memungut PENA yang jatuh yah haha sebuah PENA,
benda yg memiliki lubang kecil untuk menyalurkan tinta ujungnya di atas kertas putih. Merangkai
satu-satu kata yang semula tak bernyawa. Tidak perlu ide besar di luar
pikiran kekinian ku. Hanya perlu memungut penaku, dan membiarkan jariku
menari.
**************
Apa yang mau aku tulis?
Ya ini, semua. Dari awal sampai akhir.
Begitu saja.
* mengerjakan sesuatu yang nyata itu penting. Dunia gak akan berubah
menjadi seperti yang kita inginkan bila hanya berpikir saja. Tindakanlah
yang menentukan ke mana dunia akan berputar. Walaupun, hanya berpikir saja bisa dibilang suatu perbuatan. Tapi, yang pasti, lebih baik bertindak
daripada mengandalkan kata-kata tanpa bukti nyata ^_^
AFS, 5 RAMADHAN 1435 H, 4 JULY 2014,